Berkenalan dengan Alat Musik Angklung Yuk!

0
275

Selain sasando, alat musik asli Indonesia lainnya yang mampu menghasilkan suara begitu khas adalah angklung. Seperti apa ya sebenarnya alat musik ini?

Apa itu Angklung?

Angklung adalah alat musik yang terbuat dari bahan bambu yang kemudian dipotong mirip pipa kemudian dijadikan satu. Cara menggunakannya dengan cara digoyangkan. Sebab nada-nada yang dihasilkan angklung berasal dari benturan antara pipa bambu yang satu denga yang lain. Setidak-tidaknya terdapat susunan nada dari 2 sampai 4.

Alat musik ini berasal dari daerah Sunda dan kemudian menyebar ke berbagai daerah di nusantara. Meskipun demikian, tak jelas kapan alat ini mulai digunakan masyarakat. Banyak yang berspekulasi bahwa alat musik ini sudah digunakan sejak masa neolitikum dan berkembang terus hingga masa Hindu Budha dan Islam.

Sejarah tertua mengenai alat musik ini baru tercatat pada abad ke dua belas. Di catatan tersebut, alat musik ini digunakan di Kerajaan Sunda.

alat musik angklung
CS Lem Kayu

Bagi masyarakat sunda sendiri, alat musik ini melambangkan gaya hidup mereka. Seperti yang kita ketahui, masyarakat sunda adalah masyarakat yang agraris. Mereka menjadi petani beras dan sayur-sayuran untuk menghidupi diri dan masyarakatnya. Tak heran, di masyarakat sunda pada masa lalu memiliki kepercayaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai perlambang Dewi Padi.

Kultur tradisional tersebut sampai hari ini masih ditunjukkan oleh suku Baduy. Dan suku baduy memanfaatkan angklung dalam berbagai ritualnya. Salah satunya saat hendak menanam padi, mereka akan memainkan alat musik angklung terlebih dahulu. Mereka berharap, permainan angklung akan memikat Dewi Padi, sehingga tumbuhan yang mereka tanam subur dan bisa memberikan panen berlimpah.

Namun, selain fungsi tersebut, ternyata angklung juga sering dipakai untuk kebutuhan peperangan. Kerajaan Sunda konon akan memainkan instrument ini untuk meningkatkan semangat juang prajuritnya. Pada masa Hindia Belanda, karena fungsinya sebagai penggugah semangat rakyat, alat musik ini bahkan sempat dilarang. Kondisi itu membuat popularitas angklung mengalami penurunan yang pesat.

Jenis Bambu yang Digunakan

Sebagaimana disebut di atas, alat musik angklung dibuat menggunakan bahan bambu. Tapi perlu diketahui bahwa tidak semua jenis bambu bisa digunakan dalam pembuatan instrument ini. Secara umum, bambu yang digunakan adalah bambu hitam atau awi serta bambu ater.

Proses pembuatan tidak bisa dilakukan sembarangan dan harus dikerjakan para ahli. Sebab cara kerja alat musik ini memang dari benturan antara satu pipa bambu dengan yang lain.

Jenis-jenis Alat Musik Angklung

Sampai kini, angklung telah berkembang ke berbagai penjuru nusantara. Berikut ini contoh-contohnya:

Angklung Kanekes

Jenis ini dimiliki masyarakat Badui. Dan angklung kanekes tidak boleh dimainkan secara sembarangan. Masyarakat Baduy saja hanya menggunakannya dalam ritus penanaman padi mereka, baik di awal atau tiga bulan setelah masa penanaman. Setelah itu, alat musik ini dilarang dimainkan atau sangat dibatasi demi menjaga kesakralannya. Hal yang sebetulnya wajar, mengingat permainan alat musik ini dipersembahkan kepada Dewi masyarakat Baduy.

Angklung Reyog

Tahukah Anda bahwa pertunjukkan reog dari Ponorogo pun kerap memanfaatkan alat musik angklung? Namun bentuk dan nadanya sangat berbeda. Secara umum, suara angklung reog jauh lebih keras dengan bentuk melengkung rotan yang menarik.

alat musik angklung

Angklung Bali dan Banyuwangi

Persebaran angklung ternyata sampai ke Banyuwangi dan Bali. Dan di kedua daerah tersebut, angklung memiliki bentuk dan nada yang khas. Di Banyuwangi, misalnya, alat ini memiliki bentuk serupa calung. Nadanya pun demikian khas Banyuwangi.

Angklung Gubrag

Angklung gubrag bisa ditemukan di Cipining, Bogor. Sama seperti angklung kanekes, angklung gubrag digunakan untuk menghormati dewi padi dalam kegiatan menanam padi, mengangkut padi, serta menempatkan padi ke lumbung. Konon, masyarakat kampung Cipining mulai memainkan alat musik ini gara-gara mengalami masa paceklik.

Angklung Badeng

Pada masyarakat Jawa, para pendakwah melakukan syiar islam dengan berbagai metode. Salah satunya metode budaya dengan memainkan wayang. Hal yang sama sepertinya juga terjadi di masyarakat Sunda. Bukan wayang atau gamelan, masyarakat Sunda dikenalkan islam dengan angklung Badeng.

Namun beberapa sejahrawan mencatat bahwa sebetulnya angklung ini sudah digunakan sebelum islam datang. Hanya saja, memang banyak pendakwah yang memanfaatkan angklung ini. Terutama dari mereka yang belajar islam dari kerajaan Demak dan kembali ke tatar sunda.

Angklung Buncis

Hampir seluruh masyarakat Sunda pada masa lalu mengenal ritual bersifat agraris di mana angklung digunakan sebagai instrument pengiringnya. Salah satu contoh ritualnya adalah ritual Buncis. Namun seiring berjalannya waktu, kepercayaan tersebut ditinggalkan. Buncis pun menjadi acara hiburan semata meski masih dilakukan dalam iringan musik angklung yang merdu.

Angklung Padaeng

Alat musik angklung tipe padaeng diperkenalkan oleh Daeng Soetigna. Daeng Soetigna secara khusus menciptakan tipe Padaeng agar angklung bisa digunakan untuk memainkan lagu-lagu internasional yang didominasi oleh musik barat. Inovasi ini tercatat pada tahun 1938.

Angklung Sarinande

Angklung sarinande hanya memiliki nada bulat dengan nada dasar C. Dengan demikian pada tipe ini tidak digunakan nada kromatis. Sarinande yang kecil terdiri dari 8 buah angklung dari Do rendah hingga tinggi. Sementara yang plus terdiri dari 13 angklung dengan nada sol rendah sampai mi tinggi.

Angklung Toel

Alat musik angklung jenis toel diciptakan oleh Kang Yayan Udjo pada tahun 2008. Inovasi Kang Yayan Udjo dinilai sangat penting. Sebab desain angklung ciptaannya membuat alat musik ini lebih mudah digunakan. Pada angklung toel, digunakan rangka setinggi pinggang. Beberapa angklung kemudian dijejer terbalik. Untuk memainkannya kita tinggal menyentuhnya saja, dan kemudian alat akan bergetar untuk sementara waktu karena ikatan karet yang digunakan.

Angklung Sri-Murni

Angklung telah menyita perhatian berbagai kalangan. Eko Mursito Budi pun demikian tertarik dengan alat musik ini sehingga membuatnya secara khusus supaya bisa dimainkan oleh robot. Nama Sri Murni sendiri dipilih sebab hasil angklung ini mono tonal (hanya menghasilkan nada murni), bukan multi tonal seperti beberapa angklung yang lain. Kenapa dipilih mono tonal? Sebab, tujuannya agar robot yang digunakan lebih mudah memainkan alat musik tersebut. Inovasi ini tentu sangat menarik bagi eksistensi angklung di dunia serba teknologi seperti saat ini.

Alat Musik Angklung di Zaman Modern

Di area sekarang ini, angklung ternyata mampu menempatkan diri di antara berbagai alat musik modern. Di Yogyakarta, misalnya, banyak pemain musik jalanan yang mengandalkan alat musik ini. Jelas, kondisi ini patut disyukuri, sebab banyak instrument tradisional lain yang dilupakan masyarakat.

Kami di Bio Industries pun turut berupaya mendukung pelestarian angklung. Kami juga menyediakan lem yang cocok digubakan dalam pembuatan alat musik ini. Lem tersebut adalah lem Crossbond.

Adhesive Crossbond memiliki formula dasar PVAc atau polyvinyl acetate. Lem ini sangat cocok digunakan dalam pembuatan alat musik karena:

  1. Merekatkan dengan kuat sehingga membantu menghasilkan suara yang bagus
  2. Tidak merusak estetika
  3. Tidak berbau menyengat tajam
  4. Mudah digunakan
  5. Lebih hemat dan terangkau

Yuk, Gunakan Lem Crossbond untuk Membuat Angklung

Ayo, segera beli lem Crossbond apabila Anda ingin membuat alat musik angklung dengan kualitas tinggi. Cara pembelian Crossbond sangat mudah dilakukan. Anda bisa mengunjungi kami di Bio Service Point lho. Atau, Anda juga bisa melakukan pemesanan online di website ini.

Semoga bermanfaat ya. Simak terus berbagai artikel menarik lainnya di lemkayu.net.

CS Lem Kayu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here