Mengenal Surfaktan (Wetting Agent): Klasifikasi dan Manfaatnya

0
94
surfaktan
Image: multi-clean.com

Surfaktan atau surface active agent adalah semua jenis bahan yang bisa menurunkan tekanan permukaan atau interfacial tension antara dua benda (biasanya antar cairan, atau antar cairan dengan benda solid).

Interfacial tension sendiri dapat didefinisikan sebagai kekuatan yang membuat sebuah permukaan tidak bisa berinteraksi dengan baik ketika diekspos ke bahan yang lain.

Pernahkah Anda melihat serangga yang bisa berjalan di atas permukaan air? Hal tersebut disebabkan karena surface tension pada permukaan air yang lebih besar dari tekanan yang diberikan kaki serangga.

serangga yang bisa berjalan di atas air karena meminimalisir surface tension

Bila surface tension tak direduksi, berbagai aktivitas kita dapat terganggu. Seorang pengrajin akan kesulitan mengecat produknya karena at tak mau meresap pada kayu. Sedangkan seorang yang bekerja menjilid buku akan lelah karena lem yang dipakai tak jua bisa merekatkan dua benda yang hendak disatukan.

Klasifikasi Surfaktan

perawatan kayu alami natural oil

Untuk lebih memahami bagaimana bahan ini bekerja, kita perlu mengelompokkannya berdasarkan aspek tertentu. Di pasaran, konsumen biasanya membedakan produk ini menurut fungsinya. Namun, pengklasifikasian tersebut kurang mendalam bagi mereka yang membutuhkan surfactant untuk kebutuhan yang lebih serius (industrial).

Akan lebih baik bila pengklasifikasian bahan ini didasarkan pada struktur kimia yang sifatnya ilmiah. Dalam hal ini, bahan tersebut dapat dibedakan menjadi:

  1. Grup kepala hidrofilik polar: zat larut dalam cairan polar seperti air
  2. Grup ekor hidrofobik non polar: zat larut dalam cairan non polar seperti minyak

Ukuran bagian hidrofobik dan hidrofilik memengaruhi karakteristik surfaktan. Khusus untuk grup hidrofobik, strukturnya biasanya terdiri atas rantai hidrokarbon, rantai fluorocarbon, dan kombinasi fluorocarbon dengan rantai silikon atau hidrokarbon.

Di sisi lain, pengklasifikasian pada bagian kepala hidrofilik bisa dilihat menurut ionitasnya. Agar lebih jelas, berikut ini pembagiannya secara umum.

  1. Anionik: di mana bagian hidrofobiknya adalah anion seperti Na+
  2. Kationik: di mana bagian hidrofobiknya adalah kation seperti I-
  3. Amfoterik: di mana setidaknya terdapat satu grup anionic dan satu kationik.
  4. Non-ionik: di mana terdapat muatan positif atau negatif pada bahan tersebut.

Ada ribuan jenis surfactant yang tergolong dalam keempat kelompok tersebut. Pada formula lem sendiri, yang sering digunakan adalah formula anionic dan non ionic.

mengenal surfaktan
Image: trouwnutrition.co.uk

Keamanan dan Produksi Wetting Agent

Kebanyakan produk surfactan tidak menyebabkan toksisitas. Bahkan tingkat bahayanya setara dengan garam dapur saja (artinya tidak berbahaya bagi manusia). Namun demikian, kandungan yang berlebihan dan tambahan zat-zat tertentu bisa menyebabkan bahan ini menjadi toksik.

Bagi para pekerja yang kontak dengan surfaktan, pakaian yang aman, kacamata pelindung, dan lainnya sebagainya digunakan. Sebab eksposi terus-menerus bahan ini bisa menyebabkan iritasi pada kulit yang bersifat kronis. Hal ini berlaku untuk kategori surfactant non ionic, anionic, kationik, dan amfoterik.

Lantas, bagaimana efek bahan ini di alam?

Sama seperti pada manusia, paparan yang tidak berlebihan umumnya tidak berbahaya. Hanya saja, kandungan yang terlalu tinggi bisa menyebabkan gangguan pada organisme yang mengenainya.

Penggunaan Surfaktan dalam Bidang Perekatan

Wetting agent digunakan baik untuk lem berbasis air maupun lem berbasis solvent. Pada solvent based glue, umumnya wetting agent disebut sebagai dispersing agent mengacu pada fungsinya yang spesifik.

Penggunaan surfactant pada formula lem tak lepas dari fungsinya secara umum, yaitu agar adhesive dan permukaan media bisa merekat dengan lebih baik. Adapun secara spesifik, bahan ini bisa membantu kita untuk:

  1. Menurunkan surface tension atau tekanan permukaan hingga sangat rendah sehingga perekatan berhasil dilakukan.
  2. Membantu meminimalisir adanya kekurangan atau defect pada area-area khusus yang surface tension-nya tinggi.
  3. Membuat adhesive lebih fluid atau mudah menyebar
  4. Menstabilkan partikel-partikel lateks yang terkandung pada lem
  5. Defoaming atau mencegah terebentuknya gelembung.

Pada pembuatan lateks, wetting agent biasanya digunakan untuk mengemulsifikasikan polimer dalam wujud cairnya. Dengan demikian:

  1. Perlindungan partikel polimer dari aglomerasi yang disebabkan faktor eksternal seperti suhu, lama simpan, dan lain sebagainya.
  2. Menurunkan tekanan permukaan
  3. Mencegah busa yang terlalu banyak

Efek Penggunaan Surfaktan untuk Hasil Pengeleman

Penggunaan bahan ini memberikan pengaruh besar pada karakteristik fisik sistem adhesive. Dalam hal ini, surfactan bukan sekadar memengaruhi proses pengeleman, akan tetapi juga hasil pengeleman secara umum.

Contoh, salah satu manfaat penggunaan surfactant adalah kemampuannya sebagai stabilizer proses disperse polimer selama polimerasi emulsi. Dengan demikian bahan ini mampu membuat hasil perekatan lebih tahan lama, stabil secara mekanis, dan hasil yang seragam di seluruh permukaan.

Meski demikian, perlu dipahami oleh manufaktur lem bahwasanya penambahan surfaktan yang berlebihan bukanlah hal yang baik. Sebab resistensi cairan bisa menurun secara drastis dan formula lem malah akan rusak.

Idealnya, penambahan wetting agent dilakukan dengan berhati-hati. Jenis dan formula lem secara keseluruhan mesti diperhatikan. Trial dan error harus dilakukan oleh bagian Research and Development (R&D) supaya bisa mendapatkan takaran terbaik untuk jumlah su

Gunakan Lem Crossbond untuk Berbagai Kebutuhan Anda

Lemkayu.net merupakan situs yang menyediakan produk adhesive untuk pembuatan furniture, bangunan, dan juga kerajinan. Terdapat beberapa lem yang kami sediakan untuk keperluan yang berbeda-beda.

Lem-lem tersebut adalah:

  1. Crossbond X3 untuk merekatkan area sambungan atau joinery. Misalnya untuk mengelem kaki meja dan papan permukaan meja.
  2. Crossbond X4 untuk merekatkan permukaan lebar misalnya untuk mengelem veneer pada papan kayu.
  3. Eva Phaethon untuk merekatkan bahan sintetis dan organic, misalnya HPL dengan kayu.
  4. Lem Ultra Phaethon untuk merekatkan kertas, kerajinan, dan natural fiber.

Lem-lem tersebut diformulasikan secara saintifik oleh tim Research and Development yang selalu update dengan inovasi terbaru di bidang adhesive. Takaran dan jenis wetting agent yang dipakai pun diseleksi secara khusus agar hasil pengeleman menjadi lebih baik.

lem kayu crossbond

5 Poin Utama tentang Wetting Agent

Di atas, kita telah membahas mengenai surfaktan yang dibutuhkan pada banyak produk kimia. Terdapat setidaknya 5 poin yang bisa diringkas berdasarkan penjelasan itu.

  1. Wetting agent atau surfactant atau dispersing agent adalah salah satu jenis additive yang digunakan untuk menurunkan surface tension. Surface tension sendiri merupakan semacam tekanan yang menolak perekatan antar bahan yang berbeda.
  2. Wetting agent memiliki fungsi khusus dan jenisnya pun beragam. Tiap jenis memiliki feature, kekurangan, dan kelebihan masing-masing.
  3. Pada lem, penggunaan surfactant akan membuat hasil perekatan yang lebih baik apabila ditambahkan dalam takaran yang tepat dan jenisnya cocok dengan bahan lem yang lain.
  4. Pilihlah lem yang formulanya bagus seperti lem Crossbond dan Phaethon.
  5. Lem yang takaran formulanya seimbang akan membuat hasil pengeleman lebih awet dan juga tahan lama.

Semoga informasi ini bermanfaat untuk Anda. Terus ikuti informasi menarik lainnya di lemkayu.net.

perawatan kayu alami natural oil

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here