Kekurangan Kayu Pinus sebagai Material Mebel

0
114
kekurangan kayu pinus

Digunakan sebagai bahan baku pembuatan mebel, Anda harus memerhatikan 5 kekurangan kayu pinus ini.

Kelompok kayu bisa dibedakan menjadi dua. Yang pertama adalah hardwood atau kayu keras sedangkan yang kedua adalah softwood atau kayu lunak.

Pinus adalah salah satu contoh kayu dalam kategori softwood. Kayu ini memiliki tampilan warna yang lebih cerah dengan bagian gubal dan teras yang serupa. Tumbuhan pinus sendiri memiliki sifat tumbuh memanjang dengan banyak cabang.

Umumnya, pinus ditemukan tumbuh di wilayah dingin. Di Indonesia, misalnya, Anda bisa menemukan tanaman ini di pegunungan dan dataran tinggi seperti Bandung, Dieng, dan lainnya. Sangat jarang atau hampir tidak pernah pinus ditemukan di hutan hujan tropis.

CS Lem Kayu

Klasifikasi Pinus

  1. Kingdom: Plantae
  2. Divisi: Coniferophyta
  3. Kelas: Pinopsida
  4. Ordo: Pinales
  5. Famili: Pinaceae
  6. Genus: Pinus
  7. Spesies: Pinus sp.

Berbeda dengan kebanyakan tanaman, pinus adalah pohon berbiji terbuka. Struktur jaringan batangnya memperlihatkan struktur jaringan khas gymnospermae (tumbuhan berbiji terbuka).

Pemanfaatan pinus telah dilakukan sejak lama. Salah satunya adalah penggunaan bagian batang untuk dijadikan furnitur. Namun demikian, kayu ini bukanlah bahan baku yang sempurna. Terdapat beberapa kekurangan yang mestinya dipahami sebelum seseorang memutuskan menggunakan bahan ini.

Lima di antara kekurangan-kekurangan tersebut akan dijelaskan di bawah ini.

kekurangan kayu pinus untuk jadi bahan furnitur

5 Kekurangan Kayu Pinus untuk Mebel

1. Kurang Awet

Pinus tergolong dalam kelompok softwood atau kayu lunak. Umumnya, kayu dalam kategori ini tidak memiliki resistensi yang baik terhadap serangan hama.

Di Amerika dan Eropa dilaporkan bahwa pinus rentan terserang blue stain dan rayap. Oleh karena itulah, pengolahan kayu ini perlu dilakukan dengan hati-hati. Selain menerapkan pengawetan, pelaku usaha juga harus memastikan kondisi gudang dan proses pengerjaan yang bersih serta bebas hama.

2. Banyak Mata Kayu

Pinus memiliki banyak knot atau mata kayu. Karakter ini bagaimanapun juga bisa menjadi poin kekurangan. Sebab, knot menyulitkan beberapa tipe pengolahan kayu seperti pembuatan ukir, pemotongan, pengamplasan, bahkan sampai proses finishing.

Knot atau mata kayu sendiri biasanya adalah hasil dari cabang yang tumbang atau dipotong. Di sekitar area tersebut, serat kayu tumbuh memutar dan membentuk tampilan yang sangat khas.

3. Sulit Dicat

Kekurangan kayu pinus yang juga tak bisa diabaikan adalah kesulitannya untuk dicat. Kayu ini menyerap cairan pada tingkat yang berbeda-beda di setiap bagiannya.

Misalnya saja, pengecatan dengan wood stain pada sepotong kayu pinus. Di bagian kiri, wood stain akan terserap hingga warnanya tampak memudar. Nah, sebaliknya di bagian sebelah kanan, wood stain tidak terserap dengan begitu banyak sehingga warnanya lebih jelas.

Kondisi ini membuat hasil akhir finishing dengan wood stain tidak akan tampak seragam. Mengingat kondisi kekurangan ini, banyak pengrajin yang mau tak mau hanya menerapkan finishing natural color dengan clear coat, bukan cat stain (warna).

4. Jarang di Indonesia

Pinus merupakan tumbuhan yang umumnya hidup di daerah subtropis. Misalnya di Eropa, Asia Timur, hingga Amerika Utara.

Hanya ada beberapa jenis pinus yang tumbuh di wilayah tropis. Misalnya, Pinus merkussii yang bisa ditemukan di Indonesia. Hal ini membuat produksi pinus tidak begitu massif di Indonesia.

Wilayah tropis umumnya unggul dalam jenis kayu hardwood yang dikenal kuat, indah, dan mahal. Misalnya saja ulin, jati, dan merbau.

5. Kurang Kuat

Terakhir namun tak kalah penting, salah satu kekurangan pinus yang tak bisa diabaikan begitu saja adalah tingkat kekuatannya. Kayu ini berada dalam kelas III untuk kekuatan.
Padahal, banyak pembuatan furnitur mensyaratkan kayu dengan kekuatan yang baik. Apalagi bila kayu tersebut hendak digunakan sebagai struktur yang akan menopang beban secara kontinyu.

Hal inilah yang membuat pinus sering kali lebih banyak digunakan untuk membuat mebel yang jarang menopang beban berat hingga pelapis dinding. Sebagai pelapis dinding, misalnya, tidak dibutuhkan material kayu dengan hasil uji wood strength yang baik.

knot kekurangan kayu pinus

Selain Kekurangan, Kayu Pinus Menyimpan Keunggulan

Tak bisa dipungkiri bahwa kayu pinus memiliki cukup banyak kekurangan. Pinus memang bukan kayu kelas premium yang umumnya hadir dengan keunggulan yang tidak terbatas.

Namun demikian, di balik beberapa kelemahannya, material kayu dari pinus juga menawarkan poin-poin keunggulan. Dari estetika, misalnya, kayu ini memiliki tampilan yang sangat khas.

Walau pinus memang sulit dicat dan mengandung banyak knot, tetapi bagi beberapa kalangan, justru hal tersebut membuat material itu lebih unik.

Dari hal tersebut, akhirnya pinus lebih sering difinish dengan tampilan rustic dan patina. Ketidakseragaman penyerapan warnanya, pada tipe finishing tersebut memberikan kemudahan dan tentu saja keunggulan tersendiri.

Keunggulan kedua yang ditawarkan kayu ini adalah harganya yang terjangkau. Dibanding kayu-kayu keras tropis, harga material ini jauh lebih murah. Saking murahnya, banyak kayu pinus yang digunakan dalam pembuatan peti kemas.

Uniknya, pasca digunakan sebagai peti kemas, tak jarang yang justru berminat membeli material tersebut untuk diolah menjadi mebel. Harga kayu biasanya lebih murah dan produk pun berlabel recycled atau bisa didaur ulang.

Jadi, perlu ditekankan bahwa meskipun kekurangan kayu pinus tak bisa diabaikan, namun material ini juga memiliki keunggulan yang bisa menguntungkan penggunanya. Yang utama, pastikanlah proses pengolahannya memanfaatkan bahan berkualitas sepertiĀ  penggunaan lem kayu Crossbond saat ada proses pada kayu pinus yang membutuhkan lem.

CS Lem Kayu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here