Kekurangan Lem PVA yang Harus Anda Tahu

0
37
kekurangan lem PVA

PVA adalah salah satu formula kimia yang sangat berguna di dunia modern. Formula ini ditemukan pada zaman di mana resin-resin organik digunakan untuk merekatkan satu bahan dengan bahan yang lainnya.

Pemakaian resin organik memang cukup murah di masa itu. Pembuatannya pun mudah saja dilakukan. Akan tetapi, resin organik bukanlah bahan yang ideal sebagai perekat. Pada umumnya, lem dari material organik ini memiliki bau menyengat, menyebabkan kotor, dan cenderung membahayakan kesehatan.

Penemuan PVA seolah menjadi angin segar di dunia perekatan. Berbagai perusahaan kimia pun kemudian berlomba-lomba memproduksi PVA sebagai lem kertas, kayu, hingga kain.

Namun seiring berjalannya waktu, ditemukan berbagai formula baru dalam dunia lem. Dibanding beberapa adhesive ini, PVA pun menunjukkan beberapa keterbatasannya.

5 Kekurangan Lem PVA

1. Tidak Bisa Digunakan untuk Logam dan Plastik

CS Lem Kayu

Di masa lalu, orang-orang menggunakan kayu dan bambu untuk membuat rumah maupun furniture. Di masa kini, meski pemakaian bambu dan kayu masih sangat banyak, namun telah tersedia bahan alternatif berupa logam dan plastik.

Sayangnya, PVA tidak bisa digunakan untuk merekatkan kedua bahan alternatif tersebut. Lem ini tidak mampu berikatan secara kimiawi dengan bahan-bahan itu. Bisa dikatakan bahwa salah satu poin negatif adhesive ini adalah pemakaiannya yang terbatas pada bahan organik seperti kayu dan bambu.

Khusus untuk perekatan logam dan plastik, Anda bisa memanfaatkan produk dengan formula epoksi, PU, RF, dan sejenisnya.

2. Bukan Lem untuk Bahan Beda Karakter

Pernahkah Anda mencoba merekatkan kertas dengan plastik menggunakan lem kertas biasa? Hal itu mungkin saja tidak akan berhasil.

Mengapa demikian? Sebab lem kertas hanya bisa berikatan secara kimia dengan bahan kertas saja. Lem tersebut tidak bisa berikatan dengan bahan plastik.

Lem PVA memiliki kinerja sebagaimana lem kertas. Lem ini pun tidak bisa merekatkan dua bahan yang sifatnya berlainan, misalnya saja perekatan antara kayu dengan High Pressure Laminate.

HPL adalah coating dengan sifat ala polimer plastik yang porositasnya sangat kecil atau bahkan nol, sedangkan kayu adalah bahan organik dengan porositas sedang hingga besar.

Terdapat perbedaan karakter HPL dengan kayu yang tak bisa diabaikan dan lem PVA tidak bisa digunakan untuk menyatukan keduanya. Untuk keperluan seperti ini, Anda bisa mengandalkan lem berbasis ethylene vinyl acetate seperti Eva Phaethon.

3. Bukan Gap Filler

Kekurangan lem PVA yang lainnya adalah sifatnya yang tidak bisa membentuk filler. Sebagaimana yang kita tahu, pada beberapa proyek woodworking, kayu sering berlubang di area sambungan.

Gap atau lubang tersebut perlu ditambal agar hasil pekerjaan memuaskan. Penambalan bisa dilakukan dengan berbagai bahan. Beberapa jenis lem pun bisa digunakan untuk menambal. Namun, tidak demikian dengan PVA.

Untuk lubang atau gap kecil, adhesive ini mungkin masih bisa diandalkan. Namun tidak demikian apabila gapnya memiliki ukuran besar.

4. Formula Berbeda-beda

Formula PVA sangat terkenal dengan tingkat keamanannya yang baik. Adhesive ini pun mudah digunakan dengan berbagai metode aplikasi.

Namun, kedua keunggulan tersebut tak bisa disamarakatan pada semua brand PVA. Kita tak pernah tahu bahan apa saja yang digunakan setiap perusahaan dalam pembuatan lemnya.

Meski secara umum formula PVA aman dan mudah digunakan, namun hal ini tak bisa digeneralisasikan pada semua brand yang mengusung formula tersebut. Untuk memilih lem yang aman dan mudah, kita tetap harus bersikap teliti dan hati-hati.

5. Tahan Lembab tapi Tidak Tahan Air

Kekurangan lem PVA lainnya adalah resistensinya terhadap air yang kurang bagus. Kayu sering digunakan untuk keperluan yang berdekatan dengan air, misalnya untuk membuat jembatan, kapal, perahu, hingga lantai di samping danau.

Sayangnya, lem PVA memiliki ketahanan rendah dengan paparan air yang berlangsung terus-menerus. Lem ini hanya memiliki ketahanan yang baik di area lembab dan kondisi air yang tidak intens.

Pada shipbuilding atau pembangunan kapal pun, PVA hanya bisa digunakan di bagian interior. Misalnya untuk melapisi dinding kapal dengan veneer atau mengaplikasikan parquet yang cantik.

Selebihnya, saat memilih lem kapal yang lebih sering kontak dengan air, kita harus mencari produk dari formula epoksi, PU mastic, ataupun RF. Sebab lem tersebut yang memiliki resistensi dengan air yang cukup baik.

Terlepas dari Kekurangan Lem PVA di Atas

Semua produk adhesive, pada dasarnya memiliki kekurangan tersendiri. Seperti disebut di atas, epoksi pun bila dilihat menurut tingkat keamanannya jelas bukan lem yang sempurna.

Tiap formula lem yang beredar di pasaran dapat memenuhi keperluan yang berbeda-beda. Khusus untuk PVA, adhesive inilah yang punya keunggulan terbaik untuk perekatan kayu.

Jenis lem ini murah, mudah digunakan, sangat aman, dan daya rekatnya bagus. PVA juga telah digunakan banyak manufaktur lem yang senantiasa berlomba-lomba membuat produknya menjadi yang terbaik.

Persaingan tersebut pada akhirnya melahirkan banyak adhesive berbasis PVA berkualitas tinggi. Misalnya saja lem Crossbond X3 dan Crossbond X4.

Kedua lem tersebut diformulasikan menurut penemuan terkini dengan memanfaatkan teknologi modern. Hasilnya adalah lem yang bukan hanya berdaya rekat kuat, tapi juga eco friendly dan tentu saja sangat tahan lama.

CS Lem Kayu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here